“Mary, ini adalah hari terakhir
kamu tinggal bersama ibu.” Wanita itu berkata. Siapa dia?
“Apa maksudmu, ibu? Ibu..
mengusirku?” jawab heran seorang anak perempuan. Dari postur tubuhnya dia tidak
lebih dari 12 tahun.
“Bukan itu maksudku. Apakah kamu
tidak pernah memperhatikan apa yang telah dijelaskan saat kamu pergi ke
sekolah?” nada bicara wanita itu sudah mulai meningkat. Sang anak lebih memilih
diam.
***
Skenario seakan berganti, suasana
seakan mencekam. Teriakan sang anak dapat terdengar ke seluruh penjuru Kota.
Ringkikan dan isakan tangis menemani.
Kenapa aku melihat ini semua?
Wanita dari sebelumnnya hanya
menatap sang anak dengan rasa iba, melihat anaknya pergi dengan dua orang
berbadan besar, dengan benda yang menutupi wajahnya, dan perlengkapan perang
lengkap. Wanita itu melemparkan satu pandangan terakhir dan akhirnya ia kembali
masuk ke rumahnya dan menutup pintu tanpa kata-kata terakhir.
“IBUUUUU!!!” rintih sang anak.
Menendang-nendang orang yang akan membawanya pergi. I should do something. Tapi
memangnya mereka siapa? Anak itu tampak kesakitan, dengan cengkraman dua orang
aneh itu. Teriakan anak ini dapat terdengar oleh siapapun, tapi kenapa tidak
ada tanda-tanda seekor manusia lain yang muncul.
“Seseorang tolong aku!” mungkin
ini aba-aba dimana aku harus keluar dan menolong anak itu. This is it.
“STOP!! STOP! Lepaskan dia!” aku
akhirnya angkat bicara, sambil mengumpulkan tenaga yang tersisa. Tapi mengapa
tubuhku terasa sangat berat.
Mereka seakan tidak mendengar apa
yang aku ucapkan. Aku kembali berteriak. Sia-sia. Aku keluarkan suara ku
sekencang mungkin, tapi tetap tidak ada hasil. Mereka tuli atau apasih?
“AAAAA!!” aku mendengar suara
teriakan lagi, tapi rasanya itu bukan berasal dari mulutku bukan pula dari anak
kecil itu, apakah ada orang lain selain aku yang akhirnya mau menolong anak
itu?
Tunggu dulu.. kenapa tubuhku
berguncang, gempa? Oh my god. Menolong sesorang tidak berhasil sekarang kau
malah ingin aku mati, tuhan? Tapi aku belum siap. Guncangannya semakin besar,
ada apa ini sebenarnya.
PLAAK. Mataku seketika terbelalak
dan padasaat itu pula aku kembali berteriak, wow akhirnya suaraku kembali.
Plak. Tamparan itu lagi, aku
memegang pipiku yang aku yakin sudah
berwarna merah, aku melihat sekelilingku untuk mengenali siapa pemilik
tangan itu.
“Why the fuck do you scream like
a maniac!” sahutan seseorang dengan nada yang terus meninggi hingga akhir
pertanyaannya, or maybe it was a statement? “IN THE MIDDLE OF THE NIGHT!!”
lanjutnya. Now, who’s screaming like a lunatic?
PLAAK.
“Kenapa kamu terus menamparku?”
aku bertanya, akhirnya menatap sang pemilik tangan.
“Karena kamu berhak mendapakan
itu.” Dia menyilangkan tangannya didepan dada.
“Apa sala-“
“Just shut up, okay. Aku mencoba
untuk tidur.” Katanya setelah memotong perkataanku. Dia lalu berjalan keluar
kamarku mempercepat langkahnya tapi dalam perjalan keluarnya aku mendengar
sesuatu jatuh dan suara gerutuan.
“JAGA KUCINGMU ATAU AKU BUNUH
DIA!” teriaknya diikuti dengan suara bantingan pintu.
Let me introduce you to who that
was. That’s Stella. Teman satu post
ku, it’s a house actually tapi kami lebih memilih untuk memanggil rumah ini post. Because this house doesn’t feel
like home. Aku kenal dia sejak 4 tahun lalu ketika aku sampai di Kota ini, tapi
yang pasti dia sudah lebih lama tinggal disini walau dia baru tinggal setahun
sebelum aku datang. She’s crazy, tidak, tidak she’s actually psycho. Literally
psycho, kamu tidak akan percaya dengan berapa banyak orang yang sudah ia bunuh
karena mereka ada dihadapannya ketika ia kesal. Sampai saat ini aku masih
bingung kenapa dia belum membunuhku.
Dan mungkin aku harus menjaga
kucingku dengan benar, aku tidak akan tahu apa yang akan Stella lakukan ketika
aku menelantarkan kucingku. Ngomong-ngomong soal kucing..
Meoww..
There she is. “Siapa kucing yang
paling lucu,” aku menggelitik kucing ku, dia mengeluarkan suara raungan kecil.
“You are, of course you are.” This is Cathy, she’s a ragdoll. Aku menemukannya
saat aku sedang berjalan-jalan di hari pertamaku. Dia tampak sangat jelek saat aku
menemukannya, karena aku pikir dia tidak ada pemiliknya lebih baik aku ambil
daripada dia terlindas ban-ban besar para tentara.
Tidak lama aku bermain dengan
Cathy, tiba-tiba dia mencakarku lalu turun dari tempat tidurku tanpa merasa
bersalah. Mengibaskan ekornya.
“Kucing sialan.” Caciku sambil
mengusap dimana Cathy mencakarku.
“meow..” ia mengibaskan ekornya
lagi. Bodoh.
****
“Terimakasih.” Kataku, tapi
wanita itu hanya membalasku dengan pandangan sinis.
“Selanjutnya!” Sahut wanita itu.
Aku segera bergegas mengangkat nampanku dan pergi menjauh dari antrian.
Tapi ada satu hal lagi yang membuatku
menghentikan langkah. Aku melihat sejauh pandanganku dapat mencapai mencari
apakah ada tempat tersisa, mungkin kali ini aku harus makan diluar
Pemerintah menyediakan ruangan
yang sangat besar untuk kami semua makan. Ini sudah jam makan malam dan
biasanya pada saat ini hall lebih
padat karena semua anak perempuan hanya memiliki waktu untuk bersenang-senang
pada jam makan malam sampai jam 8 malam selebih itu para guardian akan segera memeriksa setiap sudut girls section. Bila ada satu anak yang melanggar peraturan mereka
akan dibawa ke red zone, aku tidak
mengenal satu orang pun yang pernah masuk ke red zone karena melanggar peraturan tapi banyak orang berkata bahwa
setelah melakukan penyaringan di red zone
mereka dibawa ke green zone (untuk
perempuan segala usia, blue untuk
laki-laki) dan mereka tidak akan terdengar lagi.
Aku berjalan keluar hall dengan perut yang berbunyi siap
menyantap makanan yang tidak lezat ini. After all, ini yang aku dapat. Tinggal
dengan apa adanya tanpa memiliki cukup uang, dan ditambah lagi teman serumah
yang gila dan tidak menambahkan fakta bahwa kota ini sangat miskin membuktikan
bahwa segumpal bubur hijau aneh adalah makanan yang paling wajar. Tiap post mendapat makanan setiap bulannya
tapi itu tidak mencukupi dua orang manusia apalagi dengan minimnya jatah yang
diberikan.
Setelah menyelesaikan santapan
itu, aku tinggalkan nampan didekat tempat sampah. Sepertinya mengelilingi section dapat mengosongkan pikiranku
sejenak. Setelah beberapa menit berjalan aku sampai di jalan utama.
Aku tidak tahu ada apa sebenarnya
dijalan ini, tapi jalan ini selalu membuatku merinding. Mungkin karena di ujung
jalan ada dua jalan menuju The Gate.
Satu untuk menuju Red Gate dan yang
satu lagi untuk menuju boys section.
Aku tidak pernah melihat satu anak laki-laki seumur hidupku, akutidak pernah
tahu bagaimana wujud mereka.
Aku pun juga belum pernah melihat
dengan jelas gerbang pembatas. Yang aku tahu gerbang tidak pernah dijaga secara
langsung, tapi aku dengar di jalan menuju boys
gate selalu ada penguntit.
Karena aku penasaran, aku
berjalan menuju ke boys gate. Aku
bertanya-tanya sebenarnya cowok yang masih muda itu rupanya kayak apa sih?
Karena saat aku kecil, aku tidak pernah bermain dengan anak laki-laki karena di
kota ini yang aku tahu setiap anak perempuan tidak bisa bertemu dengan anak
laki-laki.
Btw, tiba-tiba aku ingin pup, dan
udara dingin di gang ini sangat tidak membantuku untuk menahan hasrat ingin pup
untuk sebentar saja. Lalu aku mencari toilet terdekat sambil terkentut-kentut.
Mungkin ini efek makanan tadi. Untungnya diantara blue gate dan red gate
ada toilet di antaranya. Saat aku hendak masuk ke toilet tersebut, tiba-tiba
aku merasa ditabrak lalu aku jatuh terduduk. Aku merasa ada sedikit pup yang
keluar. Lalu aku bangkit lagi, dan orang itu sudah masuk duluan ke toilet
tersebut.
"Pup yang sabar ya"
ucapku dalam hati. Tiba-tiba aku mendengar suara ledakan disusul dengan bau
yang 'semerbak'. Gas tersebut seperti memaksa masuk kedalam hidungku. Aku ingin
muntah, tapi nanti pupnya malah semakin banyak yang keluar. Dan setelah sekian
lama menahan pup akhirnya keluarlah seseorang yang memiliki postur tubuh yang
aneh.
Dia gagah dan tinggi, kulitnya
putih seperti bawang putih, tapi bawang putih terlalu putih, jadi putihnya
kayak bawang putih busuk sedikit. Pantas saja bau kentutnya seperti bawang
busuk yang di hidangkan diatas es krim duren.
Makhluk macam apa ini?
"Eh lo lain kali jangan
nyerobot dong! Gue kan nyampe sini duluan! Kasian nih si pup nunggunya kelamaan!
Bahaya lo gue bisa ambeien kalau nahan
pup kelamaan!" Gerutuku kepadanya.
"Lo mending nahan pup! Gue
nahan mencret!" Jawabnya
"Pup sama mencret apa
bedanya?! Sama2 kategori berak juga kan?"
"Kalo pup tuh agak padet
kalo mencret tuh cair kayak nutella" lalu dia berjalan pergi.
Masih heran dengan makhluk aneh
ini. Aku melempar pertanyaan padanya
“PUPNYA UDAH DISIRAM BELUM?!”
Ini dia part pertama kita. Diharuskan sangat untuk memberikan kritik dan komentar dan segala masukkan.
Sekali lagi diberitahukan bahwa cerita ini hanya fiktif belaka unsur-unsur yang berada didalam cerita semuanya sangat random bila ada kesamaan nama, waktu, tempat dan alur cerita mohon maaf.
Seperti yang sudah saya janjikan minggu lalu(?), minggu ini saya sudah bekerjasama dengan pihak luar untuk mengadakan lomba, pertanyaannya sangat mudah kalian cuma harus menjawab siapa yang memainkan salah satu karakter dalam cerita ini.
Pertanyaan minggu ini adalah:
Siapakah dari anak blg38 yang memerankan Stella dalam cerita ini?
mudahkan? haha. mungkin enggak. Untuk menjawab pertanyaan ini kalian harus udah baca cerita diatas.
Jawaban harus dikirimkan ke twitter @bilchasestar dengan format: Jawaban, alasan memilih (dia) sebagai Stella dan sertakan hashtag.
#IAmDivergent
Yes. Hadiahnya tiket nonton (lagi) film Divergent yang masih coming soon. Pemenang bakal diumumin minggu depan pada hari yang sama (amin) Jadi saya tunggu jawaban kalian.
Dadah!