Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Maret 2014

Part 1

“Mary, ini adalah hari terakhir kamu tinggal bersama ibu.” Wanita itu berkata. Siapa dia?
“Apa maksudmu, ibu? Ibu.. mengusirku?” jawab heran seorang anak perempuan. Dari postur tubuhnya dia tidak lebih dari 12 tahun.
“Bukan itu maksudku. Apakah kamu tidak pernah memperhatikan apa yang telah dijelaskan saat kamu pergi ke sekolah?” nada bicara wanita itu sudah mulai meningkat. Sang anak lebih memilih diam.
***

Skenario seakan berganti, suasana seakan mencekam. Teriakan sang anak dapat terdengar ke seluruh penjuru Kota. Ringkikan dan isakan tangis menemani.
Kenapa aku melihat ini semua?
Wanita dari sebelumnnya hanya menatap sang anak dengan rasa iba, melihat anaknya pergi dengan dua orang berbadan besar, dengan benda yang menutupi wajahnya, dan perlengkapan perang lengkap. Wanita itu melemparkan satu pandangan terakhir dan akhirnya ia kembali masuk ke rumahnya dan menutup pintu tanpa kata-kata terakhir.
“IBUUUUU!!!” rintih sang anak. Menendang-nendang orang yang akan membawanya pergi. I should do something. Tapi memangnya mereka siapa? Anak itu tampak kesakitan, dengan cengkraman dua orang aneh itu. Teriakan anak ini dapat terdengar oleh siapapun, tapi kenapa tidak ada tanda-tanda seekor manusia lain yang muncul.
“Seseorang tolong aku!” mungkin ini aba-aba dimana aku harus keluar dan menolong anak itu. This is it.
“STOP!! STOP! Lepaskan dia!” aku akhirnya angkat bicara, sambil mengumpulkan tenaga yang tersisa. Tapi mengapa tubuhku terasa sangat berat.
Mereka seakan tidak mendengar apa yang aku ucapkan. Aku kembali berteriak. Sia-sia. Aku keluarkan suara ku sekencang mungkin, tapi tetap tidak ada hasil. Mereka tuli atau apasih?

“AAAAA!!” aku mendengar suara teriakan lagi, tapi rasanya itu bukan berasal dari mulutku bukan pula dari anak kecil itu, apakah ada orang lain selain aku yang akhirnya mau menolong anak itu?
Tunggu dulu.. kenapa tubuhku berguncang, gempa? Oh my god. Menolong sesorang tidak berhasil sekarang kau malah ingin aku mati, tuhan? Tapi aku belum siap. Guncangannya semakin besar, ada apa ini sebenarnya.
PLAAK. Mataku seketika terbelalak dan padasaat itu pula aku kembali berteriak, wow akhirnya suaraku kembali.
Plak. Tamparan itu lagi, aku memegang pipiku yang aku yakin sudah  berwarna merah, aku melihat sekelilingku untuk mengenali siapa pemilik tangan itu.
“Why the fuck do you scream like a maniac!” sahutan seseorang dengan nada yang terus meninggi hingga akhir pertanyaannya, or maybe it was a statement? “IN THE MIDDLE OF THE NIGHT!!” lanjutnya. Now, who’s screaming like a lunatic?
PLAAK.
“Kenapa kamu terus menamparku?” aku bertanya, akhirnya menatap sang pemilik tangan.
“Karena kamu berhak mendapakan itu.” Dia menyilangkan tangannya didepan dada.
“Apa sala-“
“Just shut up, okay. Aku mencoba untuk tidur.” Katanya setelah memotong perkataanku. Dia lalu berjalan keluar kamarku mempercepat langkahnya tapi dalam perjalan keluarnya aku mendengar sesuatu jatuh dan suara gerutuan.
“JAGA KUCINGMU ATAU AKU BUNUH DIA!” teriaknya diikuti dengan suara bantingan pintu.
Let me introduce you to who that was. That’s Stella. Teman satu post ku, it’s a house actually tapi kami lebih memilih untuk memanggil rumah ini post. Because this house doesn’t feel like home. Aku kenal dia sejak 4 tahun lalu ketika aku sampai di Kota ini, tapi yang pasti dia sudah lebih lama tinggal disini walau dia baru tinggal setahun sebelum aku datang. She’s crazy, tidak, tidak she’s actually psycho. Literally psycho, kamu tidak akan percaya dengan berapa banyak orang yang sudah ia bunuh karena mereka ada dihadapannya ketika ia kesal. Sampai saat ini aku masih bingung kenapa dia belum membunuhku.
Dan mungkin aku harus menjaga kucingku dengan benar, aku tidak akan tahu apa yang akan Stella lakukan ketika aku menelantarkan kucingku. Ngomong-ngomong soal kucing..
Meoww..
There she is. “Siapa kucing yang paling lucu,” aku menggelitik kucing ku, dia mengeluarkan suara raungan kecil. “You are, of course you are.” This is Cathy, she’s a ragdoll. Aku menemukannya saat aku sedang berjalan-jalan di hari pertamaku. Dia tampak sangat jelek saat aku menemukannya, karena aku pikir dia tidak ada pemiliknya lebih baik aku ambil daripada dia terlindas ban-ban besar para tentara.
Tidak lama aku bermain dengan Cathy, tiba-tiba dia mencakarku lalu turun dari tempat tidurku tanpa merasa bersalah. Mengibaskan ekornya.
“Kucing sialan.” Caciku sambil mengusap dimana Cathy mencakarku.
“meow..” ia mengibaskan ekornya lagi. Bodoh.

****
“Terimakasih.” Kataku, tapi wanita itu hanya membalasku dengan pandangan sinis.
“Selanjutnya!” Sahut wanita itu. Aku segera bergegas mengangkat nampanku dan pergi menjauh dari antrian.
Tapi ada satu hal lagi yang membuatku menghentikan langkah. Aku melihat sejauh pandanganku dapat mencapai mencari apakah ada tempat tersisa, mungkin kali ini aku harus makan diluar
Pemerintah menyediakan ruangan yang sangat besar untuk kami semua makan. Ini sudah jam makan malam dan biasanya pada saat ini hall lebih padat karena semua anak perempuan hanya memiliki waktu untuk bersenang-senang pada jam makan malam sampai jam 8 malam selebih itu para guardian akan segera memeriksa setiap sudut girls section. Bila ada satu anak yang melanggar peraturan mereka akan dibawa ke red zone, aku tidak mengenal satu orang pun yang pernah masuk ke red zone karena melanggar peraturan tapi banyak orang berkata bahwa setelah melakukan penyaringan di red zone mereka dibawa ke green zone (untuk perempuan segala usia, blue untuk laki-laki) dan mereka tidak akan terdengar lagi.
Aku berjalan keluar hall dengan perut yang berbunyi siap menyantap makanan yang tidak lezat ini. After all, ini yang aku dapat. Tinggal dengan apa adanya tanpa memiliki cukup uang, dan ditambah lagi teman serumah yang gila dan tidak menambahkan fakta bahwa kota ini sangat miskin membuktikan bahwa segumpal bubur hijau aneh adalah makanan yang paling wajar. Tiap post mendapat makanan setiap bulannya tapi itu tidak mencukupi dua orang manusia apalagi dengan minimnya jatah yang diberikan.

Setelah menyelesaikan santapan itu, aku tinggalkan nampan didekat tempat sampah. Sepertinya mengelilingi section dapat mengosongkan pikiranku sejenak. Setelah beberapa menit berjalan aku sampai di jalan utama.
Aku tidak tahu ada apa sebenarnya dijalan ini, tapi jalan ini selalu membuatku merinding. Mungkin karena di ujung jalan ada dua jalan menuju The Gate. Satu untuk menuju Red Gate dan yang satu lagi untuk menuju boys section. Aku tidak pernah melihat satu anak laki-laki seumur hidupku, akutidak pernah tahu bagaimana wujud mereka.
Aku pun juga belum pernah melihat dengan jelas gerbang pembatas. Yang aku tahu gerbang tidak pernah dijaga secara langsung, tapi aku dengar di jalan menuju boys gate selalu ada penguntit.
Karena aku penasaran, aku berjalan menuju ke boys gate.  Aku bertanya-tanya sebenarnya cowok yang masih muda itu rupanya kayak apa sih? Karena saat aku kecil, aku tidak pernah bermain dengan anak laki-laki karena di kota ini yang aku tahu setiap anak perempuan tidak bisa bertemu dengan anak laki-laki.
Btw, tiba-tiba aku ingin pup, dan udara dingin di gang ini sangat tidak membantuku untuk menahan hasrat ingin pup untuk sebentar saja. Lalu aku mencari toilet terdekat sambil terkentut-kentut. Mungkin ini efek makanan tadi. Untungnya diantara blue gate dan red gate ada toilet di antaranya. Saat aku hendak masuk ke toilet tersebut, tiba-tiba aku merasa ditabrak lalu aku jatuh terduduk. Aku merasa ada sedikit pup yang keluar. Lalu aku bangkit lagi, dan orang itu sudah masuk duluan ke toilet tersebut.
"Pup yang sabar ya" ucapku dalam hati. Tiba-tiba aku mendengar suara ledakan disusul dengan bau yang 'semerbak'. Gas tersebut seperti memaksa masuk kedalam hidungku. Aku ingin muntah, tapi nanti pupnya malah semakin banyak yang keluar. Dan setelah sekian lama menahan pup akhirnya keluarlah seseorang yang memiliki postur tubuh yang aneh.
Dia gagah dan tinggi, kulitnya putih seperti bawang putih, tapi bawang putih terlalu putih, jadi putihnya kayak bawang putih busuk sedikit. Pantas saja bau kentutnya seperti bawang busuk yang di hidangkan diatas es krim duren.
Makhluk macam apa ini?
"Eh lo lain kali jangan nyerobot dong! Gue kan nyampe sini duluan! Kasian nih si pup nunggunya kelamaan! Bahaya lo gue bisa ambeien kalau  nahan pup kelamaan!" Gerutuku kepadanya.
"Lo mending nahan pup! Gue nahan mencret!" Jawabnya
"Pup sama mencret apa bedanya?! Sama2 kategori berak juga kan?"
"Kalo pup tuh agak padet kalo mencret tuh cair kayak nutella" lalu dia berjalan pergi.
Masih heran dengan makhluk aneh ini. Aku melempar pertanyaan padanya

“PUPNYA UDAH DISIRAM BELUM?!”












Ini dia part pertama kita. Diharuskan sangat untuk memberikan kritik dan komentar dan segala masukkan.
Sekali lagi diberitahukan bahwa cerita ini hanya fiktif belaka unsur-unsur yang berada didalam cerita semuanya sangat random bila ada kesamaan nama, waktu, tempat dan alur cerita mohon maaf.

Seperti yang sudah saya janjikan minggu lalu(?), minggu ini saya sudah bekerjasama dengan pihak luar untuk mengadakan lomba, pertanyaannya sangat mudah kalian cuma harus menjawab siapa yang memainkan  salah satu karakter dalam cerita ini.


Pertanyaan minggu ini adalah:

Siapakah dari anak blg38 yang memerankan Stella dalam cerita ini?


mudahkan? haha. mungkin enggak. Untuk menjawab pertanyaan ini kalian harus udah baca cerita diatas.

Jawaban harus dikirimkan ke twitter @bilchasestar dengan format: Jawaban, alasan memilih (dia) sebagai Stella dan sertakan hashtag.

#IAmDivergent


Yes. Hadiahnya tiket nonton (lagi) film Divergent yang masih coming soon. Pemenang bakal diumumin minggu depan pada hari yang sama (amin) Jadi saya tunggu jawaban kalian.


Dadah!